RANGKUMAN
“Sejarah
Perkembangan Bahasa Indonesia”
Dosen Pengampuh
Ady Saputra,
M.Pd
Di susun oleh :
NAMA : Siti
Zunainah Maulidia
NPM :
16.406050.07
LOKAL : A
PENDIDIKAN GURU
SEKOLAH DASAR
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
BORNEO TARAKAN
2017
PENGERTIAN
FONOLOGI
Istilah fonologi ini berasal dari
gabungan dua kata Yunani yaitu phone yang berarti bunyi
dan logos yang berarti tatanan, kata, atau ilmu disebut juga tata
bunyi. Akan tetapi, bunyi yang dipelajari dalam Fonologi bukan bunyi sembarang
bunyi, melainkan bunyi bahasa yang dapat membedakan arti dalam bahasa lisan
ataupun tulis yang digunakan oleh manusia. Bunyi yang dipelajari dalam Fonologi
kita sebut dengan istilah fonem.
Berikut pengertian Fonologi menurut para ahli.
1. Menurut
Kridalaksana (2002) dalam kamus linguistik, fonologi adalah bidang dalam
linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya.
2. Kamus Besar
Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1988:244), fonologi dimaknai sebagai
ilmu tentang bunyi bahasa, terutama yang mencakup sejarah dan teori
perubahan bunyi.
Jadi dapat disimpulkan
bahwa fonologi adalah bagian tata bahasa atau bidang ilmu bahasa yang
menganalisis bunyi bahasa secara umum.
JENIS
– JENIS FONOLOGI
1. Fonetik
sebelum SPE
Strukturalist Amerikamenggunakan
produser segmentasi, lalu mengontraska, mengklasifikasi unit – unit bahasa yang
lebih kenal dengan istilah pasangan minimal ‘minimal paris’ (Gleason : 1958).
2. Fonologi
SPE
Buku the sound pattern of English merupakan
titik kluminasi sejumlah kajian dalam bidang teori fonologi yang di
inspirasikan dari berbagai penemuan terdahulu
BIDANG
KAJIAN FONOLOGI
1. Fonetik
a.
Fonetik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa
memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda
makna atau tidak (Chaer, 1994: 102).
b.
Fonetik adalah ilmu yang menyelidiki dan menganalisa bunyi-bunyi ujaran yang
dipakai dalam tutur, serta mempelajari bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi
tersebut dengan alat ucap manusia (Keraf, 1984: 30).
Jadi
dari pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan bahwa
Fonetik yaitu cabang kajian yang mengkaji bagaimana bunyi-bunyi fonem
sebuah bahasa direalisasikan atau dilafalkan. Fonetik juga mempelajari
cara kerja organ tubuh manusia terutama yang berhubungan dengan penggunaan
bahasa.
Chaer (2007) membagi urutan proses
terjadinya bunyi bahasa itu, menjadi tiga jenis fonetik, yaitu:
a. fonetik
artikulatoris atau fonetik organis atau fonetik fisiologi, mempelajari
bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi
bahasa serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan (Glenson.
1955:239-256; Malmberg, 1963:21-28).
b. fonetik
akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena
alam (bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getaranya, aplitudonya,dan
intensitasnya alam (Malberg, 1963:5-20).
c. fonetik
auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh
telinga kita
MANFAAT FONOLOGI
Penyelidikan bunyi-bunyi bahasa suatu bahasa mempunyai fungsi yang besar dalam
hal menciptakan tanda-tanda/lambang-lambang yang menyatakan bunyi ujaran.
Lambang-lambang bunyi ujaran itu disebut huruf,
sedangkan aturan penulisan huruf itu disebut ejaan.
Munculnya ejaan jelas merupakan usaha yang memiliki manfaat besar,terutama
untuk menyimpan informasi. Kalau ejaan dapat diterapkan sesuai dengan bunyi
ujaran, tentunya, informasi yang diabadikan lewat tulisan itu juga akan lebih
komunikatif. Namun, harus disadari bahwa tidak pernah ada sistem tulisan yang
sempurna.
Dalam
penggunaan secara praktis, bunyi-bunyi bahasa yang beragam itu akan sulit
digambarkan. Andaikan dapat menghafalkannya (dalam usaha menggunakan bahasa
tulis) bukanlah pekerjaan yang gampang, apalagi jika bunyi-bunyi itu mirip.
Karena itu, hasil penyelidikan fonemiklah yang seharusnya dijadikan dasar
pembentukan sistem tulisan. Dasar yang harus digunakan di sini adalah sebuah
fonem dilambangkan dengan satu huruf/tanda/lambing/grafem. Sistem tulisan
(ejaan) yang demikian ini disebut ejaan fonemis. Dengan kata lain, ejaan
fonemis ini menganut sistem monograf.
Di
samping itu, fonem /ә/ dan /è/ yang terbukti sebagai
fonem-fonem yang berbeda dilambangkan dengan huruf yang sama, yakni (è). Telah
terbukti pula bahwa antara /?/ (apostrof)
/bisat ( ‘ ) dengan /k/ terdapat perbedaan yang fungsional, tetapi kenyataannya
keduanya dilambangkan dengan huruf yang berbeda, yakni (k) atau ( ‘ ) tetapi
ada perbedaan dalam pengucapannya. Satu grafem/huruf yang melambangkan dua
fonem yang berbeda ini dikenal dengan istilah diafon.
KOMPONEN
FONOLOGI
Komponen fonologi merupakan satu dari dua komponen utama tata bahasa
(yang sebuah lagi; komponen sintaksis). Fonologi memetakan setiap kali
sintaksis menjadi suatu gambaran ciri-ciri fonetik yang paling terperinci;
yaitu menyajikan setiap kalimat dengan ucapannya. Komponen fonologi tidak
berhubungan dengan komponen semantik sesuatu pemerian linguistik selama kedua
komponen ini beroperasi secara sendiri-sendiri pada struktur sintaksis.
Komponen fonologi merupakan komponen tata bahasa generatif yang merubah
gambaran fonetik sistematik dari suatu tali sintaksis formatif menjadi gambaran
fonetik sistematis dan merupaka sistem kaidah-kaidah siklus yang memetakan
struktur-struktur permukaan menjadi gambaran-gambaran fonetik. Oleh karena komponen
fonologi ini merubah tali formatif menjadi gambaran fonetik, maka dia merupakan
jembatan penghubung antara sintaksis dan fonetik.
Perlu dicatat bahwa komponen fonologi hanya beroperasi pada
penanda-penanda frase turunan terakhir dari sintaksis. Komponen fonologi
bersifat interpretatif belaka. Dengan singkat dapat disimpulkan bahwa komponen
fonologi sebenarnya fonetikdari setiap kata beserta akhiran-akhirannya, intonasi kalimat. Dengan kata lain,
kaidah-kaidah komponen fonologi melukiskan bagaimana caranya setiap kalimat
diucapkan.
|
No
|
Bunyi bahasa
|
Huruf
|
Penjelasan
|
|
|
Fonem
|
A
|
merupakan vokal terbuka rendah-lamah tengah-tak bundar
atau vokal vokal tengah pendek setengah terbuka yang dihasilkan dengan bibir
netral;
|
|
|
I
|
merupakan vokal tertutup tinggi-kuat-depan-tak bundar yang
dihasilkan dengan posisi lidah bagian depan hampir menyentuh langit-langit
dengan kedua bibir agak terentang ke samping
|
|
|
|
U
|
merupakan vokal tertutup belakang-bundar-tinggi-kuat yang
dihasilkan dengan meninggikan bagian belakang bagian belakang lidah dengan
posisi kedua bibir agak maju ke depan dan membundar
|
|
|
|
E
|
merupakanvokal agak tertutup sedang-kuat-depan-tak bundar
yang dihasilkan dengan daun lidah yang dinaikkan dan diiringi bentuk
bibir yang netral, artinya, tidak terentang dan juga tidak membundar
|
|
|
|
O
|
merupakan vokal agak tertutup sedang kuat belakang bundar
yang dihasilkan dengan bentuk bibir bundar;
|
|
|
|
Fonem diftong
|
Ai
|
Untuk membunyikan diftong ai, lidah berada
pada kedudukan membunyikan vokal hadapan luas [a], dan secara cepat
geluncurkan lidah ke arah cara membunyikan vokal hadapan sempit [i]. Hujung
lidah dinaikkan tetapi tidaklah setinggi membunyikan vokal [i]. Hujung lidah
terkena pada gigi bawah. Lelangit lembut dinaikkan rapat ke dinding rongga
tekak. Glotis dirapatkan dan pita suara bergetar. Buka antara rahang adalah
antara luas dan sederhana dan bibir dihamparkan.
|
|
|
Oi
|
Bunyi diftong terhasil apabila bunyi satu vokal
menggeluncur dengan cepatnya ke satu vokal yang lain. Caranya
ialah lidah, pada mulanya, diletakkan pada keadaan membunyikan satu vokal,
kemudian digeluncurkan ke arah membunyikan vokal yang lain lalu
menjadi gabungan dua bunyi vokal. Untuk membunyikan diftong oi pula, lidah
diletakkan sebagaimana menghasilkan bunyi vokal belakang separuh
sempit [o], dan dengan cepatnya digeluncurkan lidah ke arah cara membunyikan
vokal hadapan sempit [i]. Lelangit lembut dinaikkan rapat ke dinding rongga
tekak
|
|
|
|
Au
|
Bunyi diftong [Au] ini dihasilkan dengan kedudukan lidah
secara anggarannya pada posisi seperti melafazkan bunyi [a] dan secepatnya
beralih kepada bunyi vokal belakang tertutup [u]. walaubagaimanapun bahagian
belakang lidah ini tidak benar menaik seperti mana melafazakn bunyi[u].
bentuk bibir pada mulanya tidak dalam keadaan bundar tetapi apabila hampir
selesai lafaz bunyi ini bentuk bibir menjadi bundar. Hujung lidah
hampir-hampir menyentuh gigi depan bahagian bawah dan pembukakan rahang
antara sederhana dan luas
|
|
|
|
Fonem konsonan
|
B
|
Ujung bibir diledakkan melalui tekanan udara yang
dibentuk, [B] dicapai dengan getaran ringan dari pita suara.
|
|
C
|
Bagian sisi lidah ditempatkan tegas menyentuh bagian
samping gigi atas, ujung lidah menyentuh pusat gusi atas.
|
||
|
D
|
Ujung lidah secara ringan menyantuh gusi atas, jentikannya
diawali oleh desakan udara, lidah melepas diri dari tekanan.
|
||
|
F
|
Gigi atas lebih ditekankan pada bibir bawah.
|
||
|
G
|
Pita suara dirapatkan, Arus udara dari paru-paru yang
keluar melalui rongga mulut mengetarkan pita suara, Bunyi yang dihasilkan
ialah letupan lelangit lembut bersuara [g].
|
||
|
H
|
Langit-langit bagian yang lunak sejenak memperkuat
hembusan nafas ke sasaran yang dituju.
|
||
|
J
|
Depan lidah diangkat tinggi ke arah gusi, Bibir di
hamparkan, Lelangit lembut dinaikkan ke belakang rongga tekak untuk menyekat
udara dari paru-paru ke rongga hidung, Pita suara digetarkan sambil lidah
bergerak pantas ke kedudukan untuk membunyikan vokal [j], Bunyi yang
dihasilkan ialah bunyi separuh vokal lelangit keras bersuara [j]
|
||
|
K
|
Belakang lidah dirapatkan ke lelangit lembut untuk membuat
sekatan penuh pada arus udara, Lelangit lembut dan anak tekak dirapatkan ke
rongga tekak bagi menyekat arus udara dari paru-paru ke rongga hidung, Pita
suara di renggangkan, Arus udara keluar dari paru-paru melaui rongga mulut
tanpa menggetarkan pita suara, Sekatan udara yang dibuat oleh belakang lidah
dilepaskan serta merta. Bunyi yang dihasilkan ialah letupan lelangit lembut
tidak bersuara [k]
|
||
|
L
|
Lidah melengkung tepat dibagian belakang gigi atas, tidak melebar
dan mengendur tetapi tangkas dan menipis lembut agar udara dapat melintas
dari sisi-sisinya.
|
||
|
M
|
Bibir bawah dan bibir atas dirapatkan untuk membuat
sekatan pada arus udara, Lelangit lembut dan anak tekak diturunkan untuk
memberikan laluan arus udara dari paru-paru ke rongga hidung, Arus udara dari
paru-paru masuk ke rongga mulut dan terus ke rongga hidung, Pita suara
dirapatkan untuk membuat getaran, Arus udara dilepaskan perlahan-lahan.
|
||
|
N
|
Depan lidah dinaikkan ke lelangit keras untuk membuat
sekatan arus udara, Lelangit lembut dan anak tekak diturunkan untuk
memberikan laluan arus udara yang terkeluar dari paru-paru ke rongga hidung,
Pita suara dirapatkan dan digetarkan, Arus udara daripada paru-paru melalui
rongga mulut dan terus ke rongga hidung, Udara yang tersekat oleh depan lidah
dan lelangit keras dilepaskan pelahan-lahan
|
||
|
P
|
Ujung bibir diledakkan melalui tekanan udara yang
dibentuk, [B] dicapai dengan getaran ringan dari pita suara.
|
||
|
Q
|
Suara badan lidah (dorsal) aspirasi. Lafalkan seperti
konsonan ch dalam bahasa Indonesia.
|
||
|
R
|
Ujung lidah digetarkan hingga menyentik pangkal gigi atas
dan sedikit gigi bawah.
|
||
|
S
|
Ujung lidah bekerja terbalik tetapi cenderung naik
kemulut, gigi atas menutup tanpa menyentuh gigi bawah, dan bibir bawah
bergerak ke atas.
|
||
|
T
|
Ujung lidah ditempatkan (bukan diletakkan) menyentuh gusi
tepat diatas gigi. Begitu lidah memetik dan lepas dari posisi, ledakan kecil
dari udara dihembuskan.
|
||
|
V
|
Lidah melengkung tepat dibagian belakang gigi atas, tidak
melebar dan mengendur tetapi tangkas dan menipis lembut agar udara dapat
melintas dari sisi-sisinya.
|
||
|
W
|
Bibir di bundarkan, Belakang lidah dinaikkan ke lelangit
lembut, Lelangit lembut dinaikkan ke belakang rongga tekak untuk menyekat
arus udara udara dari paru-paru ke rongga hidung, Udara dari paru-paru
keluar ke rongga mulut, Pita suara digetarkan dan lidah bergerak dengan
pantas ke kedudukan untuk membunyikan vokal tengah [w].
|
||
|
X
|
suara badan lidah (dorsal). Lafalkan mirip konsonan s,
dalam bahasa Indonesia, namun dilafalkan dengan badan lidah bukan dengan
ujung lidah.
|
||
|
Y
|
Dimulai dengan formasi [I] dan bongkokkan lidah, seolah
hanya memberi sedikit ruang pada mulut bagian atas.
|
||
|
Z
|
Sama seperti membunyikan [S] namun sedikit lebih berat.
|
||
|
|
Fonem kluster
|
Kh
|
Ujung lidah bersentuhan dengan langit lembut.
|
|
Ny
|
Tengah lidah bersentuhan dengan langit-langit kasar.
|
||
|
Ng
|
Ujung lidah ditempatkan dibelakang dan diatas gigi atas
bagian depan, pojok (bagian belakang dari lidah) diangkat dan bergerak sejauh
mungkin. lakukan NG seperti mengucapkan (singing- sangsung).
|
||
|
Sy
|
Ujung lidah bekerja terbalik tetapi cenderung naik
kemulut, gigi atas menutup tanpa menyentuh gigi bawah, dan bibir bawah
bergerak ke atas.
|
DAFTAR ISI
http://raisyaandhira.blogspot.co.id/2013/03/pengertian-fonologi-dan-kajiannya.html
Diakses pada tanggal 20 maret 2017
https://judulkaryailmiah.com/pengertian-fonologi-bahasa-indonesia-2/
di akses pada tanggal 21 maret 2017
http://effendyhafid.blogspot.co.id/2012/05/materi-fonologi_19.html
Diakses pada tanggal 20 Maret 2017
http://sadmito.blogspot.co.id/2008/12/vocal-konsonan.html
diakses pada tanggal 21 maret 2017
Tidak ada komentar:
Posting Komentar