Senin, 20 Maret 2017

fonologi



RANGKUMAN
“Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia”
Dosen Pengampuh
Ady Saputra, M.Pd

Di susun oleh :
NAMA : Siti Zunainah Maulidia
NPM : 16.406050.07
LOKAL : A

PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BORNEO TARAKAN
2017
PENGERTIAN FONOLOGI
Istilah fonologi ini berasal dari gabungan dua kata Yunani yaitu phone yang berarti bunyi dan logos yang berarti tatanan, kata, atau ilmu disebut juga tata bunyi.  Akan tetapi, bunyi yang dipelajari dalam Fonologi bukan bunyi sembarang bunyi, melainkan bunyi bahasa yang dapat membedakan arti dalam bahasa lisan ataupun tulis yang digunakan oleh manusia. Bunyi yang dipelajari dalam Fonologi kita sebut dengan istilah fonem.
Berikut pengertian Fonologi menurut para ahli.
1.       Menurut Kridalaksana (2002) dalam kamus linguistik, fonologi adalah bidang dalam linguistik yang menyelidiki bunyi-bunyi bahasa menurut fungsinya.
2.       Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdikbud, 1988:244), fonologi dimaknai sebagai  ilmu tentang bunyi bahasa, terutama yang mencakup sejarah dan teori perubahan bunyi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa fonologi adalah bagian tata bahasa atau bidang ilmu bahasa yang menganalisis bunyi bahasa secara umum.



JENIS – JENIS FONOLOGI
1.      Fonetik sebelum SPE
Strukturalist Amerikamenggunakan produser segmentasi, lalu mengontraska, mengklasifikasi unit – unit bahasa yang lebih kenal dengan istilah pasangan minimal ‘minimal paris’ (Gleason : 1958).
2.      Fonologi SPE
Buku the sound pattern of English merupakan titik kluminasi sejumlah kajian dalam bidang teori fonologi yang di inspirasikan dari berbagai penemuan terdahulu
BIDANG KAJIAN FONOLOGI
1.       Fonetik
a.       Fonetik adalah cabang studi fonologi yang mempelajari bunyi bahasa tanpa memperhatikan apakah bunyi-bunyi tersebut mempunyai fungsi sebagai pembeda makna atau tidak (Chaer, 1994: 102).
b.      Fonetik adalah ilmu yang menyelidiki dan menganalisa bunyi-bunyi ujaran yang dipakai dalam tutur, serta mempelajari bagaimana menghasilkan bunyi-bunyi tersebut dengan alat ucap manusia (Keraf, 1984: 30).
Jadi dari pendapat para ahli tersebut dapat disimpulkan  bahwa Fonetik yaitu cabang kajian yang mengkaji bagaimana bunyi-bunyi fonem sebuah bahasa direalisasikan atau dilafalkan. Fonetik juga mempelajari cara kerja organ tubuh manusia terutama yang berhubungan dengan penggunaan bahasa.
Chaer (2007) membagi urutan proses terjadinya bunyi bahasa itu, menjadi tiga jenis fonetik, yaitu:
a.       fonetik artikulatoris atau fonetik organis atau fonetik fisiologi, mempelajari bagaimana mekanisme alat-alat bicara manusia bekerja dalam menghasilkan bunyi bahasa serta bagaimana bunyi-bunyi itu diklasifikasikan  (Glenson. 1955:239-256; Malmberg, 1963:21-28).
b.      fonetik akustik mempelajari bunyi bahasa sebagai peristiwa fisis atau fenomena alam (bunyi-bunyi itu diselidiki frekuensi getaranya, aplitudonya,dan intensitasnya alam (Malberg, 1963:5-20).
c.       fonetik auditoris mempelajari bagaimana mekanisme penerimaan bunyi bahasa itu oleh telinga kita

MANFAAT FONOLOGI
            Penyelidikan bunyi-bunyi bahasa suatu bahasa mempunyai fungsi yang besar dalam hal menciptakan tanda-tanda/lambang-lambang yang menyatakan bunyi ujaran. Lambang-lambang bunyi ujaran itu disebut huruf, sedangkan aturan penulisan huruf itu disebut ejaan.
            Munculnya ejaan jelas merupakan usaha yang memiliki manfaat besar,terutama untuk menyimpan informasi. Kalau ejaan dapat diterapkan sesuai dengan bunyi ujaran, tentunya, informasi yang diabadikan lewat tulisan itu juga akan lebih komunikatif. Namun, harus disadari bahwa tidak pernah ada sistem tulisan yang sempurna.
            Dalam penggunaan secara praktis, bunyi-bunyi bahasa yang beragam itu akan sulit digambarkan. Andaikan dapat menghafalkannya (dalam usaha menggunakan bahasa tulis) bukanlah pekerjaan yang gampang, apalagi jika bunyi-bunyi itu mirip. Karena itu, hasil penyelidikan fonemiklah yang seharusnya dijadikan dasar pembentukan sistem tulisan. Dasar yang harus digunakan di sini adalah sebuah fonem dilambangkan dengan satu huruf/tanda/lambing/grafem. Sistem tulisan (ejaan) yang demikian ini disebut ejaan fonemis. Dengan kata lain, ejaan fonemis ini menganut sistem monograf.
            Di samping itu, fonem /ә/ dan /è/ yang terbukti sebagai fonem-fonem yang berbeda dilambangkan dengan huruf yang sama, yakni (è). Telah terbukti pula bahwa antara /?/ (apostrof) /bisat ( ‘ ) dengan /k/ terdapat perbedaan yang fungsional, tetapi kenyataannya keduanya dilambangkan dengan huruf yang berbeda, yakni (k) atau ( ‘ ) tetapi ada perbedaan dalam pengucapannya. Satu grafem/huruf yang melambangkan dua fonem yang berbeda ini dikenal dengan istilah diafon.

KOMPONEN FONOLOGI
            Komponen fonologi merupakan satu dari dua komponen utama tata bahasa (yang sebuah lagi; komponen sintaksis). Fonologi memetakan setiap kali sintaksis menjadi suatu gambaran ciri-ciri fonetik yang paling terperinci; yaitu menyajikan setiap kalimat dengan ucapannya. Komponen fonologi tidak berhubungan dengan komponen semantik sesuatu pemerian linguistik selama kedua komponen ini beroperasi secara sendiri-sendiri pada struktur sintaksis.
            Komponen fonologi merupakan komponen tata bahasa generatif yang merubah gambaran fonetik sistematik dari suatu tali sintaksis formatif menjadi gambaran fonetik sistematis dan merupaka sistem kaidah-kaidah siklus yang memetakan struktur-struktur permukaan menjadi gambaran-gambaran fonetik. Oleh karena komponen fonologi ini merubah tali formatif menjadi gambaran fonetik, maka dia merupakan jembatan penghubung antara sintaksis dan fonetik.
            Perlu dicatat bahwa komponen fonologi hanya beroperasi pada penanda-penanda frase turunan terakhir dari sintaksis. Komponen fonologi bersifat interpretatif belaka. Dengan singkat dapat disimpulkan bahwa komponen fonologi sebenarnya fonetikdari setiap kata beserta akhiran-akhirannya,  intonasi kalimat. Dengan kata lain, kaidah-kaidah komponen fonologi melukiskan bagaimana caranya setiap kalimat diucapkan.


No
Bunyi bahasa
Huruf
Penjelasan
  1.  
Fonem
A
merupakan vokal terbuka rendah-lamah tengah-tak bundar atau vokal vokal tengah pendek setengah terbuka yang dihasilkan dengan bibir netral;


I
merupakan vokal tertutup tinggi-kuat-depan-tak bundar yang dihasilkan dengan posisi lidah bagian depan hampir menyentuh langit-langit dengan kedua bibir agak terentang ke samping 


U
merupakan vokal tertutup belakang-bundar-tinggi-kuat yang dihasilkan dengan meninggikan bagian belakang bagian belakang lidah dengan posisi kedua bibir agak maju ke depan dan membundar


E
merupakanvokal agak tertutup sedang-kuat-depan-tak bundar yang dihasilkan dengan daun lidah yang dinaikkan  dan diiringi bentuk bibir yang netral, artinya, tidak terentang dan juga tidak membundar


O
merupakan vokal agak tertutup sedang kuat belakang bundar yang dihasilkan dengan bentuk bibir bundar;
  1.  
Fonem diftong
Ai
Untuk membunyikan diftong ai, lidah berada pada kedudukan membunyikan vokal hadapan luas [a], dan secara cepat geluncurkan lidah ke arah cara membunyikan vokal hadapan sempit [i]. Hujung lidah dinaikkan tetapi tidaklah setinggi membunyikan vokal [i]. Hujung lidah terkena pada gigi bawah. Lelangit lembut dinaikkan rapat ke dinding rongga tekak. Glotis dirapatkan dan pita suara bergetar. Buka antara rahang adalah antara luas dan sederhana dan bibir dihamparkan.


Oi
Bunyi diftong terhasil apabila bunyi satu vokal menggeluncur dengan cepatnya ke satu vokal yang lain.  Caranya ialah lidah, pada mulanya, diletakkan pada keadaan membunyikan satu vokal, kemudian digeluncurkan  ke arah membunyikan vokal yang lain lalu menjadi gabungan dua bunyi vokal. Untuk membunyikan diftong oi pula, lidah diletakkan sebagaimana menghasilkan bunyi vokal  belakang separuh sempit [o], dan dengan cepatnya digeluncurkan lidah ke arah cara membunyikan vokal hadapan sempit [i]. Lelangit lembut dinaikkan rapat ke dinding rongga tekak


Au
Bunyi diftong [Au] ini dihasilkan dengan kedudukan lidah secara anggarannya pada posisi seperti melafazkan bunyi [a] dan secepatnya beralih kepada bunyi vokal belakang tertutup [u]. walaubagaimanapun bahagian belakang lidah ini tidak benar menaik seperti mana melafazakn bunyi[u]. bentuk bibir pada mulanya tidak dalam keadaan bundar tetapi apabila hampir selesai lafaz bunyi ini bentuk bibir menjadi bundar. Hujung lidah hampir-hampir menyentuh gigi depan bahagian bawah dan pembukakan rahang antara sederhana dan luas

  1.  
Fonem konsonan
B
Ujung bibir diledakkan melalui tekanan udara yang dibentuk, [B] dicapai dengan getaran ringan dari pita suara.


C
Bagian sisi lidah ditempatkan tegas menyentuh bagian samping gigi atas, ujung lidah menyentuh pusat gusi atas.


D
Ujung lidah secara ringan menyantuh gusi atas, jentikannya diawali oleh desakan udara, lidah melepas diri dari tekanan.


F
Gigi atas lebih ditekankan pada bibir bawah.


G
Pita suara dirapatkan, Arus udara dari paru-paru yang keluar melalui rongga mulut mengetarkan pita suara, Bunyi yang dihasilkan ialah letupan lelangit lembut bersuara [g].


H
Langit-langit bagian yang lunak sejenak memperkuat hembusan nafas ke sasaran yang dituju.


J
Depan lidah diangkat tinggi ke arah gusi, Bibir di hamparkan, Lelangit lembut dinaikkan ke belakang rongga tekak untuk menyekat udara dari paru-paru ke rongga hidung, Pita suara digetarkan sambil lidah bergerak pantas ke kedudukan untuk membunyikan vokal [j], Bunyi yang dihasilkan ialah bunyi separuh vokal lelangit keras bersuara [j]


K
Belakang lidah dirapatkan ke lelangit lembut untuk membuat sekatan penuh pada arus udara, Lelangit lembut dan anak tekak dirapatkan ke rongga tekak bagi menyekat arus udara dari paru-paru ke rongga hidung, Pita suara di renggangkan, Arus udara keluar dari paru-paru melaui rongga mulut tanpa menggetarkan pita suara, Sekatan udara yang dibuat oleh belakang lidah dilepaskan serta merta. Bunyi yang dihasilkan ialah letupan lelangit lembut tidak bersuara [k]


L
Lidah melengkung tepat dibagian belakang gigi atas, tidak melebar dan mengendur tetapi tangkas dan menipis lembut agar udara dapat melintas dari sisi-sisinya.


M
Bibir bawah dan bibir atas dirapatkan untuk membuat sekatan pada arus udara, Lelangit lembut dan anak tekak diturunkan untuk memberikan laluan arus udara dari paru-paru ke rongga hidung, Arus udara dari paru-paru masuk ke rongga mulut dan terus ke rongga hidung,  Pita suara dirapatkan untuk membuat getaran,  Arus udara dilepaskan perlahan-lahan.


N
Depan lidah dinaikkan ke lelangit keras untuk membuat sekatan arus udara, Lelangit lembut dan anak tekak diturunkan untuk memberikan laluan arus udara yang terkeluar dari paru-paru ke rongga hidung, Pita suara dirapatkan dan digetarkan, Arus udara daripada paru-paru melalui rongga mulut dan terus ke rongga hidung, Udara yang tersekat oleh depan lidah dan lelangit keras dilepaskan pelahan-lahan


P
Ujung bibir diledakkan melalui tekanan udara yang dibentuk, [B] dicapai dengan getaran ringan dari pita suara.


Q
Suara badan lidah (dorsal) aspirasi. Lafalkan seperti konsonan ch dalam bahasa Indonesia.


R
Ujung lidah digetarkan hingga menyentik pangkal gigi atas dan sedikit gigi bawah.


S
Ujung lidah bekerja terbalik tetapi cenderung naik kemulut, gigi atas menutup tanpa menyentuh gigi bawah, dan bibir bawah bergerak ke atas.


T
Ujung lidah ditempatkan (bukan diletakkan) menyentuh gusi tepat diatas gigi. Begitu lidah memetik dan lepas dari posisi, ledakan kecil dari udara dihembuskan.


V
Lidah melengkung tepat dibagian belakang gigi atas, tidak melebar dan mengendur tetapi tangkas dan menipis lembut agar udara dapat melintas dari sisi-sisinya.


W
Bibir di bundarkan, Belakang lidah dinaikkan ke lelangit lembut, Lelangit lembut dinaikkan ke belakang rongga tekak untuk menyekat arus udara udara dari paru-paru ke rongga hidung,  Udara dari paru-paru keluar ke rongga mulut, Pita suara digetarkan dan lidah bergerak dengan pantas ke kedudukan untuk membunyikan vokal tengah [w].


X
suara badan lidah (dorsal). Lafalkan mirip konsonan s, dalam bahasa Indonesia, namun dilafalkan dengan badan lidah bukan dengan ujung lidah.


Y
Dimulai dengan formasi [I] dan bongkokkan lidah, seolah hanya memberi sedikit ruang pada mulut bagian atas.


Z
Sama seperti membunyikan [S] namun sedikit lebih berat.

  1.  
Fonem kluster
Kh
Ujung lidah bersentuhan dengan langit lembut.


Ny
Tengah lidah bersentuhan dengan langit-langit kasar.


Ng
Ujung lidah ditempatkan dibelakang dan diatas gigi atas bagian depan, pojok (bagian belakang dari lidah) diangkat dan bergerak sejauh mungkin. lakukan NG seperti mengucapkan (singing- sangsung).


Sy
Ujung lidah bekerja terbalik tetapi cenderung naik kemulut, gigi atas menutup tanpa menyentuh gigi bawah, dan bibir bawah bergerak ke atas.

DAFTAR ISI
http://sadmito.blogspot.co.id/2008/12/vocal-konsonan.html diakses pada tanggal 21 maret  2017

Tidak ada komentar:

Posting Komentar